Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap

Posted by Ganas003 on 22.08 in

No Pict Hoax! Bung masih memegang teguh istilah ini? Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi tersebut valid dan niscaya bukan isu bohong? Coba bung simak foto di bawah ini!


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Foto itu memang sempat bikin heboh jagat maya. Malah beberapa media massa besar sempat kecele berat dan berpikir kejadian tersebut orisinil terjadi. Yup, foto itu tak benar-benar ada. Foto itu hasil kreativitas digital imaging seorang Agan Harahap.


Yup, Agan Harahap yaitu seniman visual kontemporer yang bergerak di bidang manipulasi foto. Ia bukan hanya sekedar tukang edit foto yang sekarang mulai marak bertebaran di internet. Karyanya sudah dipamerkan di beberapa lokasi bahkan hingga ke manca negara macam Singapura, Cina, Portugal hingga Jerman.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Apa yang membedakan karya Agan dengan yang lainnya? Layaknya seniman adiluhung jaman dahulu, ia merespon kejadian di sekitarnya dan menuangkannya dalam karya. Kaprikornus karya-karya Agan tak sebatas mengedit foto dan memanipulasinya, tapi Agan berbicara mengenai kondisi situasi sosial sekitarnya. Ia berusaha menangkap realita sekaligus memadukannya dengan keinginan orang-orang sekitarnya.


“Posisi seniman kontemporer itu jelas. Intinya memang merespon perihal apa yang terjadi di kala itu. Contohnya ketika agama mendominasi semuanya, maka gambar pada kala Caravaggio atau Michelangelo tiba-tiba isinya ketuhanan semua. Lalu kenapa tiba-tiba gambarnya Van Gogh yaitu impresi? Ya alasannya yaitu eranya memang sedang begitu. Saya juga menyerupai itu. Saya mendapat semua isu dari timeline, dan saya kembalikan lagi ke timeline” Tutur Agan ketika kami menemuinya di sebuah kamar hotel di bilangan Jakarta.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Maka jangan heran jikalau image yang diolah Agan selalu mengundang decak kagum sekaligus cercaan sebagian orang lainnya. Karena meski image yang diolah hasil manipulasi, namun inspirasi dan ceritanya terasa bersahabat dengan situasi yang sedang terjadi. Apalagi hasil editan Agan memang sangat halus dan menciptakan mata sulit membedakannya dengan yang asli.


Uniknya Agan mempelajari keahliannya secara otodidak. Bahkan dapat dibilang awal perkenalannya dengan olah foto dan digital imaging termasuk “kurang ajar”. Semua diawali ketika ia kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual. Ketika itu salah satu mata kuliahnya memperlihatkan kiprah fotografi.


Masalahnya, laki-laki batak satu ini membenci fotografi dan lebih doyan menggambar. Ia bahkan tidak dapat memotret dan tak punya kamera. Nah, biar dapat lulus mata kuliah tersebut, hasil karya temannya yang tak terpakai dipinjamnya dan beliau klaim sebagai karyanya. Dari situlah ia berguru mengedit brightness, contrast, hingga jadinya berguru cara menyeleksi, memotong, kemudian memindahkan ini-itu.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Aksi ‘nakalnya’ ini berlanjut ketika ia memasuki dunia kerja. Salah seorang kawannya menawarinya untuk menggantikan posisinya itu sebagai fotografer di Majalah Trax. Padahal hingga ketika itu pun, Agan belum juga menguasai fotografi. Bukannya menolak, ia malah mengiyakan ajuan ini. Kembali main akal-akalan, ia meminjam portofolio temannya yang fotografer sungguhan. Dan gawatnya ia malah lolos seleksi dan dipanggil ke majalah tersebut untuk di interview.


“Temen-temen gua tahu jikalau gua nggak dapat motret. Cuma gua waktu itu diminta buat gantiin temen gua di Trax, namanya Bayu Adhitya. Akhirnya gua pinjem portofolio temen-temen gua dan gua persentasiin di depan user MRA (perusahaan yang membawahi Trax) sekaligus fotografernya, Harry Subastian. Tiba-tiba gua malah dipanggil, ya mati lah gua haha jadi fotografer tapi gua nggak dapat motret haha,” Celoteh Agan.


Namun pada jadinya Agan mulai kesulitan main kucing-kucingan soal skill fotografinya ini. Meski dari diterima kerja hingga setahun berlalu foto hasil manipulasi editannya berhasil lolos dan ditayangkan di majalah tersebut, tapi Agan mulai bermasalah menjawab pertanyaan orang-orang sekitarnya.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


“Ketika gua selesai motret, mas Harry atau yang gua potret pribadi minta lihat hasilnya di kamera. Gua selalu ngeles dengan alasan ‘rahasia perusahaan’. Padahal gua melaksanakan itu alasannya yaitu nggak PD (Percaya Diri) sama hasilnya. Soalnya gua ngaco banget motretnya. Hari pertama gua bertugas saja, gua tidak tahu cara menyalakan lampunya. Pokoknya gua motret pakai mode auto saja. Makanya gua selalu membawa komputer ke mana-mana untuk edit foto hingga naik cetak, selalu begitu,” ungkap Agan sambil tertawa.


Dari sinilah jadinya Agan mulai berguru soal fotografi. Seperti setting lampu studio, mensinkronisasikan dengan kamera dan teknik lainnya. Karyanya pun makin ciamik dengan keahlian memotretnya tersebut.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Dengan makin sulitnya membedakan karyanya dengan foto asli, Agan juga sadar penuh bahwa karyanya harus dapat dibedakan dengan akun-akun penyebar Hoax yang gemar mengedit gambar. Untuk itu ia selalu melengkapi foto hasil editnya dengan narasi yang menggelitik sekaligus memperlihatkan petunjuk bahwa foto tersebut hasil digital imaging. Narasi ini juga memperkuat realita dan keinginan yang ada di masyarakat.


“Kalau gua nggak bedain apa bedanya gua dengan akun hoax. Seperti ketika gua mengedit foto Habib Riziq dengan Raja Salman. Karena gua ngelihat beberapa media yang menyampaikan jikalau Raja Salman ke indonesia mau ketemu Habib alasannya yaitu beliau yaitu keturunan Nabi Muhammad, tapi kan nggak mungkin dong. Karena tujuan kunjungannya bahwasanya ingin ketemu Jokowi. Akhirnya dengan ada isu menyerupai itu, berarti kan ada harapan. Ya keinginan mereka gua wujudkan, (tapi) dengan klue Lion Air (Raja Salman naik Lion Air). Ya harusnya orang berpikir, nggak mungkin sekelas Raja naik Lion Air. Tapi sudah diberi clue menyerupai itu pun banyak yang ‘kemakan’ sama foto gua,” imbuhnya.


Pada pada dasarnya Agan hanya berusaha menggambarkan situasi yang terjadi di sekitarnya. Menangkap keinginan sekaligus realita yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dan bicara soal keinginan dapat jadi itu postif maupun negatif. Ada saja contohnya keinginan untuk lawannya ‘terpeleset’.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


“Ketika ada foto Habib dan Ahok bersalaman, banyak yang bilang, “Hoax nih! Fitnah nih!” Padahal gua bukan mendobrak norma, cuma menggali norma yang telah terlupakan. Seperti persahabatan islam sama kristen yang sudah terjalin semenjak dulu. Ketika ada foto Ahok dipeluk Megan Fox dan dicium Miley Cyrus, wah Ahokers marah-marah, ‘Bohong nih!’ sementara kubu satunya bilang, ‘Nih buktinya’. Nah di wilayah macam itu lah saya selalu. Kadang-kadang saya memberi keinginan supaya benar-benar terjadi, tapi kadang memancing supaya jadi perang. Gua selalu mencampurkan air dan api di karya-karya gua ” tuturnya santai.


Mengingat ‘panasnya’ area seni yang dijalaninya, Agan selalu memikirkan masak-masak karya yang akan ditelurkannya. Ia berusaha memahami batasan-batasan dan bahasa-bahasanya, apakah terlalu vulgar atau tidak. Dengan berusaha memikirkan batasan ini, karya Agan malah seringkali di apresiasi oleh ‘korbannya’.


Salah satu karya yang membawa imajinasi yaitu ketika Agan mengunggah foto editannya bersama James Hatefield, vokalis Metallica yang sedang party di apartemen lewat blog pribadinya. Berselang sekian tahun, Agan justru berkesempatan bertemu dengan Metallica secara langsung. Dengan berani Agan menujukan hasil edit fotonya kepada personil Metallica.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


“Gua kasih liat foto editan gua pas Robert Trujillo foto bareng Jusuf Kalla dan beliau jawab I dont remember, where you taken this?” katanya sambil tertawa.


Demikianlah bung seharusnya meresapi karya seni yang ditelurkan Agan Harahap. Melihatnya sebagai citra situasi dan keinginan yang terjadi di tengah masyarakat, tanpa melihatnya sebagai senjata untuk menyerang lawan. Ketika kita memperlakukannya demikian, dapat jadi kita malah akan tersenyum ketika menyadari bahwa kita telah dimanipulasi oleh Agan Harahap.