Tak Selamanya Waktu Hanya Untuk Bekerja Bung, Sebab Kebahagiaan Tidak Diukur Dari Banyaknya Harta

Di usia-usia produktif memang impian bekerja ulet niscaya ada, apa lagi bila bonus dan uang lembur selalu menanti. Rasanya rela mengorbankan semua asalkan isi dompet selalu tebal tiap harinya. Memang untuk urusan kantong banyak yang harus dikorbankan. Karena kehidupan memang bersumber soal uang kan? Orang awam saja berkata “kencing aja bayar”, berarti ya poros kehidupan yakni uang.


Uang memang menjadi salah satu benda mati yang dipuja dan dirindukan. Makanya, banyak orang yang bekerja mati-matian untuk mendapatkannya. Tapi terlalu sibuk bekerja juga tidak untung, Bung sanggup saja ditinggalkan orang-orang yang disayang, dilanda rasa sakit, hingga keluarga tak begitu diperhatikan dan gres berasa ketika mereka satu per satu berpulang ke alam baka.


Kalau bekerja ulet memang diperbolehkan Bung. Namun, jangan hingga waktu bekerja mengganggu hal-hal lain. Seperti menjaga silaturahmai keluarga, kehangatan bersama pasangan dan tali persaudaraan bersama teman. Kebahagiaan itu tiba dari sekitar kalian, Bung harus sanggup menjaga kadar antara bekerja dan kehidupan sosial. Karena tak selamanya bahan sanggup membeli kebahagiaan.


Keluarga Dicampakkan Karena Sibuk Bekerja Tiap Pekan


usia produktif memang impian bekerja ulet niscaya ada Tak Selamanya Waktu Hanya Untuk Bekerja Bung, Karena Kebahagiaan Tidak Diukur Dari Banyaknya Harta


Bekerja menghabiskan 5 hari dari 7 hari yang tersedia setiap pekannya. 40 jam dihabiskan setiap 5 hari untuk menandakan dedikasi, hingga hari Sabtu dan Minggu terkena imbasnya untuk menuntaskan pekerjaan yang belum selesai. Dari sekian waktu yang tersisa kapan Bung bertemu keluarga? bahkan hanya sekedar menanyakan kabar saja tidak sempat, padahal perihal tahu kabar seseorang tidak menghabiskan waktu selama 3 menit.


Untuk meluangkan waktu 3 menit saja terlupakan lantaran terlalu fokus dan disibukkan pekerjaan. Pekerjaan tampaknya terlalu banyak menyita waktu. Bung, membangun komunikasi keluarga itu penting dan harus dijaga, lantaran mereka niscaya juga merindukan untuk berbicara banyak. Tapi mereka tak berani memulainya, lantaran takut mengacaukan waktu yang Bung punya.


Lembur Dan Bonus Menggoda Di Waktu Luang, Sehingga Pacar maupun Kawan Rela Dikorbankan


usia produktif memang impian bekerja ulet niscaya ada Tak Selamanya Waktu Hanya Untuk Bekerja Bung, Karena Kebahagiaan Tidak Diukur Dari Banyaknya Harta


Ketika dewasa, memang jumlah sahabat semakin lama, semakin berkurang. Bisa lantaran memang sudah tidak terjalin komunikasi atau memang kesibukan yang menjadi alasan. Mereka yang pergi mungkin lelah lantaran pernah diabaikan beberapa kali, ketika rasa ingin bersua sahabat ditampik alasannya yakni lembur di simpulan pekan. Jangan salahkan mereka yang pergi Bung, lantaran diabaikan terus-menerus menciptakan mereka lelah dan takut mengganggu waktumu.


Tak hanya soal persahabatan saja, tapi pacar juga sanggup berakhir menyerupai ini. Hubungan antara pasangan lebih pelik dari persahabatan lantaran harus memperlihatkan kabar setiap saat. Kalau Bung yang selalu disibukan dengan bekerja demi uang, ya tinggal tunggu waktu saja lantaran si nona niscaya akan meninggalkan. Jangan hingga pekerjaan menyita semua waktu Bung. Bung bukan robot yang harus siap bekerja 1×24 jam, tapi hanya insan biasa yang mempunyai kehidupan lain selain bekerja.


Tenaga Digadai Demi Pekerjaan, Meski Kesehatan Telah Berada Di Titik Keberatan


usia produktif memang impian bekerja ulet niscaya ada Tak Selamanya Waktu Hanya Untuk Bekerja Bung, Karena Kebahagiaan Tidak Diukur Dari Banyaknya Harta


Tubuh yang selalu diforsir untuk bekerja lebih dari biasanya tidak akan baik-baik saja. Meski badan Bung tidak bereaksi apa-apa, bukan berarti tak ada masalah. Mungkin memang tidak sekarang, namun sanggup saja nanti. Kondisi fisik dilarang diabaikan, Bung yang terlalu banyak bekerja harus menjaga kesehatan. Kalau teladan makan dan tidur saja berantakan, otomatis itu akan menciptakan Bung sakit-sakitan.


Bung yang bekerja terlalu ulet hingga tak kenal waktu demi mengejar bonus, niscaya akan mendapat hal yang setimpal yakni kantong yang lebih tebal. Namun, buat apa kantong yang lebih tebal bila itu semua nantinya digunakan untuk biaya perawatan. Oleh lantaran itu, jangan hingga pekerjaan Bung merusak waktu tidur dan makan, lantaran dua hal itu menjadi asupan dan kekuatan.


Waktu Sangat Krusial, Terlalu Memforsir Diri Untuk Bekerja Akan Membuat Hidup Bung Sial


usia produktif memang impian bekerja ulet niscaya ada Tak Selamanya Waktu Hanya Untuk Bekerja Bung, Karena Kebahagiaan Tidak Diukur Dari Banyaknya Harta


Momen yang terasa membahagiakan tidak akan sanggup diulang. Bung yang kini telah berusia kepala tiga apakah merindukan rasa-rasa di mana grup chatting dipenuhi dialog perihal liburan dikala tanggal merah yang terselip. Atau ketika keluarga sedang berkumpul dan bercanda perihal masa kecil anak dan cucunya yang kini telah dewasa. Tak lupa juga si nona yang sering mengajak makan sate taichan di setiap pekan lantaran sedang hits- hitsnya di media sosial. Terkadang kebahagiaan tidak sanggup diukur lewat harta, kebahagiaan yakni soal waktu yang dimanfaatkan menjadi momen sederhana yang mempunyai sejuta makna.


Kebahagiaan Itu Nyata, Sedangkan Materi Itu Fana Bung


usia produktif memang impian bekerja ulet niscaya ada Tak Selamanya Waktu Hanya Untuk Bekerja Bung, Karena Kebahagiaan Tidak Diukur Dari Banyaknya Harta


Money can’t buy happiness sebuah jargon yang niscaya Bung ketahui. Bahwa uang tidak sanggup membeli kebahagiaan. Beberapa hal yang menjadi sumber senang dalam kehidupan ini tak sanggup dibeli dengan materi. Materi hanya membawa rasa nyaman dan aman, sekaligus poros kehidupan. Kebahagiaan sanggup didapatkan dari sebuah rasa pertemanan, kekeluargaan, dan percintaan. Rasa-rasa tersebut tak sanggup dibeli dengan uang, juga tidak sanggup diukur dengan materi. Karena kebahagiaan itu yakni bentuk aktual dari kehidupan yang sesungguhnya.


Tanpa Captain Tsubasa, Sepak Bola Jepang Bukan Apa-Apa

Menelisik prestasi sepak bola Jepang yang semakin maju semenjak abad 90-an, ternyata ada tugas dari salah satu serial animasi yang fenomenal, Captain Tsubasa. Serial kartun yang sudah beredar semenjak tahun 1981 lewat majalah terkenal Shonen Manga Weekly Shonen Jump, yang menceritakan perjalanan karir seorang Tsubasa Ozora. Dari pemain antar sekolah dasar hingga membela timnas Jepang dan bergabung dengan tim Catalonia, klub Barcelona versi Captain Tsubasa.


Captain Tsubasa terakhir kali terbit atau pun tayang di tahun 2012. Pada bulan April tahun ini, serial ini akan kembali lagi dengan nama yang sama. Jalan ceritanya pun ialah remake dari serial sebelumnya. Munculnya (kembali) serial ini sanggup membangkitkan kembali prestasi Jepang untuk urusan sepak bola. Tadinya, Jepang tidak masuk dalam peta kekuatan sepak bola Asia, hingga serial ini dibentuk oleh Yoichi Takahashi. Bagaimana tugas sebuah animasi ini sanggup memotivasi persepakbolaan Jepang?


Menginspirasi Bakat-Bakat Baru, Salah satunya Hidetoshi Nakata


Menelisik prestasi sepak bola Jepang yang semakin maju semenjak abad  Tanpa Captain Tsubasa, Sepak Bola Jepang Bukan Apa-apa

Sumber : thesefootballtimes.com


Hidetoshi Nakata ialah salah satu dari sekian pemain yang terinspirasi animasi Captain Tsubasa. Pemain ini sukses mengantarkan AS Roma menjuarai Liga Italia pada tahun 2001 dan menjadi pemain Jepang bahkan Asia pertama yang sukses berkarir di Eropa. Seperti membela Perugia, Bolton Wanderers dan Parma pernah dilakoninya. Meskipun terbilang sukses sebagai pemain sepak bola, Nakata bukanlah sosok penggemar sepak bola.


Nakata pun menambahkan bahwa ia tidak pernah menyaksikan sepak bola di TV, video atau di platform apa pun. Sampai pada masa mudanya, ia terpaku membaca komik Tsubasa Cs dan mempraktekan beberapa skill yang ada di jalan dongeng tersebut. Terutama tendangan overhead. Mungkin tanpa animasi Captain Tsubasa, tak ada nama Hidetoshi Nakata, Keisuke Honda, Shunsuke Nakamura dan Shinji Kagawa yang berperan sebagai gelandang tengah menyerupai Tsubasa.


Dari Yang Terasing Menjadi Populer


Menelisik prestasi sepak bola Jepang yang semakin maju semenjak abad  Tanpa Captain Tsubasa, Sepak Bola Jepang Bukan Apa-apa

Sumber : wallpapercave.com


Dalam beberapa tahun lamanya, sepak bola ialah olahraga langka di negara sakura. Tak banyak orang yang memahami bahkan menyayangi si kulit bundar. Olahraga ini bahkan kalah pamor dengan baseball. Untuk mejumpai orang Jepang yang menyukai baseball sangatlah gampang ketika itu. Namun, pamor baseball lama-kelamaan sanggup disaingi sepak bola berkat kemunculan komik Tsubasa.


Sampai pada tahun 1981 Yoichi Takahashi menciptakan animasi ini. Dulunya, Yoichi, menciptakan komik ihwal baseball alasannya ialah ia sangat menyukai olahraga yang memakai pemukul tersebut. Sampai ia terpikir untuk menciptakan komik dengan subjek utama sepak bola, alasannya ialah komik yang bercerita soal baseball sudah banyak ketika itu, hingga pada karenanya Captain Tsubasa meledak dan menginspirasi banyak orang.


Turut Membangun Kompetisi Anak Muda Masa Kini


Menelisik prestasi sepak bola Jepang yang semakin maju semenjak abad  Tanpa Captain Tsubasa, Sepak Bola Jepang Bukan Apa-apa

Sumber : soccermommanual.com


Komik Captain Tsubasa memang telah diterbitkan dalam beberapa seri menyerupai pada tahun 1981-1988, 1994-1997, 2001-2004, dan 2010-2012. Sampai seri terbarunya nanti yang akan tayang di tahun 2018. Setelah seri pertama telah selesai terbit. Federasi sepak bola Jepang atau JFA mulai serius berbagi bakat-bakat pemain muda mulai dari SD hingga SMA. Dengan membentuk kompetisi yang mulai dibenahi secara detail dan dibentuk meriah, menyerupai tergambarkan pada serialnya.


Di mana Tsubasa yang membela Nankatsu sedang bermain di kompetisi antar SD yang digelar semarak. Mungkin hal tersebut yang memantik federasi bahwa pagelaran sepak bola pemain muda harus diset meriah biar memicu motivasi generasi muda.


Serial Kartunnya Tak Hanya Melantun, Tapi Juga Membangun


Menelisik prestasi sepak bola Jepang yang semakin maju semenjak abad  Tanpa Captain Tsubasa, Sepak Bola Jepang Bukan Apa-apa

Sumber : wikipedia.com


Prestasi Jepang dalam dunia sepak bola memanglah belum terlalu berbahaya hingga tahun 1988. Pada tahun 1968 tim yang mempunyai julukan Samurai Biru ini mendapat medali perunggu pada Olimpiade yang digelar di Meksiko. Setelah itu, sepak bola Jepang ya biasa-biasa saja Bung. Pada pagelaran Piala Asia saja, mereka selalu gagal dalam kualifikasi, ataupun tidak ambil bagian. Sampai pada tahun 1988, untuk pertama kalinya timnas Jepang lolos Piala Asia yang digelar di Qatar.  Namun torehannya sangat tidak memuaskan dengan tiga kali kekalahan dan satu kali seri.


Dengan torehan yang tidak terlalu baik tersebut menciptakan Jepang harus tersingkir. Empat tahun kemudian Jepang ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Asia, secara mengejutkan mereka keluar sebagai juara. Hal ini sangat mengejutkan, 13 dari 20 pemain yang ikut serta pada ketika itu pemain yang berumur 26 tahun. Sangat mungkin bila merekalah generasi dari Captain Tsubasa.


Dari Jepang Hingga Menyebar Ke Seluruh Dunia


Menelisik prestasi sepak bola Jepang yang semakin maju semenjak abad  Tanpa Captain Tsubasa, Sepak Bola Jepang Bukan Apa-apa

Sumber : goal.com


Captain Tsubasa memang bukan serial pertama asal Jepang yang bercerita ihwal sepak bola. Karena ada The Red Blooded Eleven dan Shinji Mizushima Downtown Samurai yang terbit lebih dulu. Namun, serial inilah yang paling sukses di Jepang bahkan di dunia. Di Timur Tengah serial ini berjulukan Kapten Majed, sedangkan di Amerika Selatan berjulukan Supercampeones dan di Amerika Utara berjulukan Flash Kicker. Ketenarannya terkenal di seluruh dunia meski dalam tajuk yang berbeda.


Pemain top dunia menyerupai Fernando Torres menyatakan bahwa ketika kecil ia juga menyaksikan Oliver and Benji (nama lain Captain Tsubasa di Eropa). Ia menyatakan bahwa teman sekolahnya selalu bercerita ihwal kartun sepak bola asal Jepang, dan Torres mulai menggeluti sepak bola alasannya ialah serial tersebut. Tak hanya Torres, bahkan Del Piero di tahun 2011 sangat bahagia mendapat tanda tangan dari Yoichi Takahashi, alasannya ialah ia pembaca Oliver and Benji semenjak masih kecil.


Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap

No Pict Hoax! Bung masih memegang teguh istilah ini? Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi tersebut valid dan niscaya bukan isu bohong? Coba bung simak foto di bawah ini!


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Foto itu memang sempat bikin heboh jagat maya. Malah beberapa media massa besar sempat kecele berat dan berpikir kejadian tersebut orisinil terjadi. Yup, foto itu tak benar-benar ada. Foto itu hasil kreativitas digital imaging seorang Agan Harahap.


Yup, Agan Harahap yaitu seniman visual kontemporer yang bergerak di bidang manipulasi foto. Ia bukan hanya sekedar tukang edit foto yang sekarang mulai marak bertebaran di internet. Karyanya sudah dipamerkan di beberapa lokasi bahkan hingga ke manca negara macam Singapura, Cina, Portugal hingga Jerman.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Apa yang membedakan karya Agan dengan yang lainnya? Layaknya seniman adiluhung jaman dahulu, ia merespon kejadian di sekitarnya dan menuangkannya dalam karya. Kaprikornus karya-karya Agan tak sebatas mengedit foto dan memanipulasinya, tapi Agan berbicara mengenai kondisi situasi sosial sekitarnya. Ia berusaha menangkap realita sekaligus memadukannya dengan keinginan orang-orang sekitarnya.


“Posisi seniman kontemporer itu jelas. Intinya memang merespon perihal apa yang terjadi di kala itu. Contohnya ketika agama mendominasi semuanya, maka gambar pada kala Caravaggio atau Michelangelo tiba-tiba isinya ketuhanan semua. Lalu kenapa tiba-tiba gambarnya Van Gogh yaitu impresi? Ya alasannya yaitu eranya memang sedang begitu. Saya juga menyerupai itu. Saya mendapat semua isu dari timeline, dan saya kembalikan lagi ke timeline” Tutur Agan ketika kami menemuinya di sebuah kamar hotel di bilangan Jakarta.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Maka jangan heran jikalau image yang diolah Agan selalu mengundang decak kagum sekaligus cercaan sebagian orang lainnya. Karena meski image yang diolah hasil manipulasi, namun inspirasi dan ceritanya terasa bersahabat dengan situasi yang sedang terjadi. Apalagi hasil editan Agan memang sangat halus dan menciptakan mata sulit membedakannya dengan yang asli.


Uniknya Agan mempelajari keahliannya secara otodidak. Bahkan dapat dibilang awal perkenalannya dengan olah foto dan digital imaging termasuk “kurang ajar”. Semua diawali ketika ia kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual. Ketika itu salah satu mata kuliahnya memperlihatkan kiprah fotografi.


Masalahnya, laki-laki batak satu ini membenci fotografi dan lebih doyan menggambar. Ia bahkan tidak dapat memotret dan tak punya kamera. Nah, biar dapat lulus mata kuliah tersebut, hasil karya temannya yang tak terpakai dipinjamnya dan beliau klaim sebagai karyanya. Dari situlah ia berguru mengedit brightness, contrast, hingga jadinya berguru cara menyeleksi, memotong, kemudian memindahkan ini-itu.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Aksi ‘nakalnya’ ini berlanjut ketika ia memasuki dunia kerja. Salah seorang kawannya menawarinya untuk menggantikan posisinya itu sebagai fotografer di Majalah Trax. Padahal hingga ketika itu pun, Agan belum juga menguasai fotografi. Bukannya menolak, ia malah mengiyakan ajuan ini. Kembali main akal-akalan, ia meminjam portofolio temannya yang fotografer sungguhan. Dan gawatnya ia malah lolos seleksi dan dipanggil ke majalah tersebut untuk di interview.


“Temen-temen gua tahu jikalau gua nggak dapat motret. Cuma gua waktu itu diminta buat gantiin temen gua di Trax, namanya Bayu Adhitya. Akhirnya gua pinjem portofolio temen-temen gua dan gua persentasiin di depan user MRA (perusahaan yang membawahi Trax) sekaligus fotografernya, Harry Subastian. Tiba-tiba gua malah dipanggil, ya mati lah gua haha jadi fotografer tapi gua nggak dapat motret haha,” Celoteh Agan.


Namun pada jadinya Agan mulai kesulitan main kucing-kucingan soal skill fotografinya ini. Meski dari diterima kerja hingga setahun berlalu foto hasil manipulasi editannya berhasil lolos dan ditayangkan di majalah tersebut, tapi Agan mulai bermasalah menjawab pertanyaan orang-orang sekitarnya.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


“Ketika gua selesai motret, mas Harry atau yang gua potret pribadi minta lihat hasilnya di kamera. Gua selalu ngeles dengan alasan ‘rahasia perusahaan’. Padahal gua melaksanakan itu alasannya yaitu nggak PD (Percaya Diri) sama hasilnya. Soalnya gua ngaco banget motretnya. Hari pertama gua bertugas saja, gua tidak tahu cara menyalakan lampunya. Pokoknya gua motret pakai mode auto saja. Makanya gua selalu membawa komputer ke mana-mana untuk edit foto hingga naik cetak, selalu begitu,” ungkap Agan sambil tertawa.


Dari sinilah jadinya Agan mulai berguru soal fotografi. Seperti setting lampu studio, mensinkronisasikan dengan kamera dan teknik lainnya. Karyanya pun makin ciamik dengan keahlian memotretnya tersebut.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


Dengan makin sulitnya membedakan karyanya dengan foto asli, Agan juga sadar penuh bahwa karyanya harus dapat dibedakan dengan akun-akun penyebar Hoax yang gemar mengedit gambar. Untuk itu ia selalu melengkapi foto hasil editnya dengan narasi yang menggelitik sekaligus memperlihatkan petunjuk bahwa foto tersebut hasil digital imaging. Narasi ini juga memperkuat realita dan keinginan yang ada di masyarakat.


“Kalau gua nggak bedain apa bedanya gua dengan akun hoax. Seperti ketika gua mengedit foto Habib Riziq dengan Raja Salman. Karena gua ngelihat beberapa media yang menyampaikan jikalau Raja Salman ke indonesia mau ketemu Habib alasannya yaitu beliau yaitu keturunan Nabi Muhammad, tapi kan nggak mungkin dong. Karena tujuan kunjungannya bahwasanya ingin ketemu Jokowi. Akhirnya dengan ada isu menyerupai itu, berarti kan ada harapan. Ya keinginan mereka gua wujudkan, (tapi) dengan klue Lion Air (Raja Salman naik Lion Air). Ya harusnya orang berpikir, nggak mungkin sekelas Raja naik Lion Air. Tapi sudah diberi clue menyerupai itu pun banyak yang ‘kemakan’ sama foto gua,” imbuhnya.


Pada pada dasarnya Agan hanya berusaha menggambarkan situasi yang terjadi di sekitarnya. Menangkap keinginan sekaligus realita yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dan bicara soal keinginan dapat jadi itu postif maupun negatif. Ada saja contohnya keinginan untuk lawannya ‘terpeleset’.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


“Ketika ada foto Habib dan Ahok bersalaman, banyak yang bilang, “Hoax nih! Fitnah nih!” Padahal gua bukan mendobrak norma, cuma menggali norma yang telah terlupakan. Seperti persahabatan islam sama kristen yang sudah terjalin semenjak dulu. Ketika ada foto Ahok dipeluk Megan Fox dan dicium Miley Cyrus, wah Ahokers marah-marah, ‘Bohong nih!’ sementara kubu satunya bilang, ‘Nih buktinya’. Nah di wilayah macam itu lah saya selalu. Kadang-kadang saya memberi keinginan supaya benar-benar terjadi, tapi kadang memancing supaya jadi perang. Gua selalu mencampurkan air dan api di karya-karya gua ” tuturnya santai.


Mengingat ‘panasnya’ area seni yang dijalaninya, Agan selalu memikirkan masak-masak karya yang akan ditelurkannya. Ia berusaha memahami batasan-batasan dan bahasa-bahasanya, apakah terlalu vulgar atau tidak. Dengan berusaha memikirkan batasan ini, karya Agan malah seringkali di apresiasi oleh ‘korbannya’.


Salah satu karya yang membawa imajinasi yaitu ketika Agan mengunggah foto editannya bersama James Hatefield, vokalis Metallica yang sedang party di apartemen lewat blog pribadinya. Berselang sekian tahun, Agan justru berkesempatan bertemu dengan Metallica secara langsung. Dengan berani Agan menujukan hasil edit fotonya kepada personil Metallica.


 Yakin jikalau sudah dilengkapi dengan foto dan gambar dapat dipastikan sebuah informasi ters Menipisnya Batas Hoax Dan Seni Di Tangan Agan Harahap


“Gua kasih liat foto editan gua pas Robert Trujillo foto bareng Jusuf Kalla dan beliau jawab I dont remember, where you taken this?” katanya sambil tertawa.


Demikianlah bung seharusnya meresapi karya seni yang ditelurkan Agan Harahap. Melihatnya sebagai citra situasi dan keinginan yang terjadi di tengah masyarakat, tanpa melihatnya sebagai senjata untuk menyerang lawan. Ketika kita memperlakukannya demikian, dapat jadi kita malah akan tersenyum ketika menyadari bahwa kita telah dimanipulasi oleh Agan Harahap.


Kenyamanan Dalam Berpacaran Tidak Bersumber Dari Keromantisan, Tetapi Keabsurdan

Hubungan pacaran memang senormalnya menjalani hal yang romantis, saling melempar pesan puitis nan gombal ibarat di drama Hollywood atau Korea. Tapi mode pacaran ibarat itu memang sudah masuk dalam skenario sutradara, dan sanggup jadi jarang terjadi di dunia nyata.


Tak perlu muluk-muluk, melaksanakan dialog abstrak pun jadi bukti bergotong-royong kalau Bung dengan pasangan sudah masuk zona nyaman. Hal abstrak yang menjadi topik pun jadi menunjukan jikalau korelasi yang Bung jalin tak lagi jaim alias jaga image. Terkesan anomali memang. Hubungan berpacaran yang ibarat itu layaknya persahabatan. Tidak ada batasan tapi rasa cinta dan kasih sayang tetap jadi landasan utama. Mungkin Bung heran kenapa sanggup demikian, namun ibarat itulah adanya.


Warna Pakaian Bisa Menyebabkan Pertikaian, Tapi Saat Bung Dan Si Nona Sudah Merasa Nyaman, Hal Itu Tak Akan Terjadi


Hubungan pacaran memang senormalnya menjalani hal yang romantis Kenyamanan Dalam Berpacaran Tidak Bersumber Dari Keromantisan, Tetapi Keabsurdan


Ketika menjalani masa pendekatan dengan pasangan, yang namanya jaim sudah menjadi senjata. Bung pun tidak mau dianggap aneh, sehinga memancing pasangan ilfeel. Kalau pasangan sudah ilfeel otomatis, ia akan menjauh dari radar percintaan. Maka dari itu banyak orang yang ingin tampil keren di hadapan pasangannya.


Ketika Bung ingin tampil keren dengan menentukan pakaian yang cocok dikenakan ketika kencan pertama. Bung justru merasa si nona menentukan warna yang norak. Apabila Bung mengatakannya ketika itu habislah sudah, si nona tentu tersinggung sebab merasa selera pakaiannya direndahkan. Namun, ketika Bung dan si nona sudah sama-sama nyaman, menilai warna baju pasangan nampaknya tidak menjadikan kemarahan. Malahan si nona terbuka dengan segala evaluasi asalkan Bung tidak mengomentarinya berlebihan sebab tiba-tiba jadi pengamat dadakan.


Amarah Si Nona Pun Tak Akan Tersulut Saat Bung Mengomentari Berat Badannya Yang Kian Berisi


Hubungan pacaran memang senormalnya menjalani hal yang romantis Kenyamanan Dalam Berpacaran Tidak Bersumber Dari Keromantisan, Tetapi Keabsurdan


Hal sensitif lainnya yang biasanya tidak sanggup diterima nona ialah soal berat badan. Mengomentari berat tubuh ibarat mengatakan, “Kamu gendutan?” mungkin sanggup menciptakan si nona murka. Karena bagi wanita menjadi gemuk atau kelebihan berat tubuh ibarat sebuh kenyataan yang tak kuasa untuk disangkal, namun sulit untuk dirubah dalam artian mengurangi porsi makan.


Namun Bung, apabila Bung dan si nona sudah sama-sama nyaman, tentu si nona tak akan emosi ketika Bung mengomentari badannya yang semakin berisi. Si nona akan mengganggap hal itu sebagai motivasi untuk memperbaiki diri. Tak lagi terpengaruhi rasa sensitif sebab pernyataan Bung yang impulsif.


Alih-alih Berlaku Jaim Saat Makan Di Depan Si Nona, Bung Pun Tak Lagi Perhitungan Soal Makanan


Hubungan pacaran memang senormalnya menjalani hal yang romantis Kenyamanan Dalam Berpacaran Tidak Bersumber Dari Keromantisan, Tetapi Keabsurdan


Makan? Dinner? Bisa menjadi sesuatu yang menciptakan Bung ingin terlihat sopan, tidak terlalu lahap, padahal suasana dalam perut masih riuh hendak menyantap. Tak ingin terlihat rakus, Bung rela menciptakan perut berteriak kalau lambung masih kurus ingin diisi lagi. Berhubung Bung sedang masa pendekatan, agak terlihat keren dan menyenangkan, Bung pun tak makan dengan porsi terbatas.


Kalau sudah jadian dalam kurun waktu bertahun-tahun sifat orisinil niscaya lambat laun akan kelihatan. Bung sudah dalam kategori yang nyaman ketika melihat pasangan menyisakan kuliner dan tanpa basa-basi Bung bilang, “Kalau tidak habis, kasih saya saja”.  Bahkan sanggup jadi Bung dan si nona saling berebut makanan.


Bahkan Bung Pun Tak Segan Menawarkan Bantuan Untuk Memecahkan Jerawatnya


Hubungan pacaran memang senormalnya menjalani hal yang romantis Kenyamanan Dalam Berpacaran Tidak Bersumber Dari Keromantisan, Tetapi Keabsurdan


Jerawat ialah hal yang mengganggu kemulusan muka. Membuat setiap individu aib untuk keluar sebab tidak percaya diri. Apa lagi bagi perempuan, tumbuh satu infeksi saja sudah membuatnya stres nggak karuan. Bung yang risih dengan infeksi pasangan, ingin sekali memecahkannnya. Tapi kerisihan Bung tak mungkin sanggup disalurkan ketika pacaran masih dalam tahap hitungan bulan.


Ketika jangka waktu pacaran terbilang lama. Jerawat di muka bukan lagi sebuah kerisihan yang tidak sanggup dinyatakan. Bung sanggup bilang sekaligus memperlihatkan untuk memecahkan jerawat. Terlalu abstrak memang ketika Bung malah memperlihatkan perlakuan demikian. Tetapi sebab sudah santai dengan pasangan, hal ibarat itu sanggup dinyatakan.


Hingga Reaksi Si Nona Yang Hanya Tertawa Ringan Saat Bung Buang Angin Di Depannya


Hubungan pacaran memang senormalnya menjalani hal yang romantis Kenyamanan Dalam Berpacaran Tidak Bersumber Dari Keromantisan, Tetapi Keabsurdan


Ini merupakan hal yang paling krusial dalam berpacaran. Sikap ini memang tidak sopan, tapi kalau buang angin ditahan-tahan malah menjadi penyakit. Mungkin ada satu momen di mana Bung menahan rasa tersebut sebab malu. Tapi rasa yang tertahankan alhasil keluar, dan berlagak suci Bung tidak mengaku dan menuduh orang lain.


Hal yang krusial ini akan menjadi sebuah hal yang biasa dalam level pacaran di tingkatan lebih tinggi. Selain nyaman, rasa mengerti satu sama lain juga menjadi alasan. Sampai-sampai ketika Bung buang angin di depan di nona, reaksinya hanya tertawa, bersikap biasa dan mengomentari baunya. Obrolan yang abstrak tersebut malah menjadi penanda kalau korelasi pacaran Bung sudah berhasil mencapai titik nyaman. Terkadang keanomalian dalam bersikap sanggup disikapi santai, asalkan tidak berlebihan.


 


Ketika Borok Sepak Bola Tanah Air Terungkap Oleh Pemain Belanda Yang Pernah Hijrah Ke Indonesia

Kristian Adelmund merupakan sosok yang pernah mencicipi keganasan Liga Indonesia. Bukan keganasan macam kompetitifnya suatu persaingan antar klub, dan berjibakunya pemain selama di lapangan. Namun, kebobrokan sistem liga nomor satu Indonesia ini. Banyak hal yang ia utarakan kepada Vice Sport, ketika ia sudah tidak lagi merumput karena sang ayah yang sakit kanker darah, membuatnya harus kembali ke tanah kelahirannya, Rotterdam.


Curahan jujur Adelmund perihal kondisi sepak bola tanah air menjadi satu bahasan yang menarik. Lantaran, liga tertinggi selalu berusaha menjadi yang terbaik semenjak beberapa tahun lalu. Namun permasalahan yang terjadi selalu mengakar seolah tak pernah tuntas diselesaikan. Salah satunya yakni korupsi, momok terbesar negeri ini.


Bermula Di PSIM, Seketika Ia Dipanggil Namun Dipulangkan Tanpa Alasan


Kristian Adelmund merupakan sosok yang pernah mencicipi keganasan Liga Indonesia Ketika Borok Sepak Bola Tanah Air Terungkap Oleh Pemain Belanda Yang Pernah Hijrah Ke Indonesia


Bermula ketika dipanggil seorang kawannya berjulukan Lorenzo Rimkus, yang mengajaknya bermain untuk PSIM Jogja.  Tanpa pikir panjang ia mendapatkan anjuran itu. Pengalaman pertamanya dikala bertandang ke Sumatera di mana ia mendapati seorang supir bus tim PSIM berlaku ekstrim dengan ngebut membawa kendaraan. Terlebih lagi kata Adelmund, tidak ada pembatas jalan selama di perjalanan. Namun ia heran dikala melihat rekan satu timnya sanggup tidur nyenyak, sedangkan ia melek selama sepuluh jam.


Tidak hingga disitu, ketika ia kembali ke hotel sesudah latihan, official tim memberi tahu dirinya semoga tidak keluar dari hotel alasannya yakni ada sekelompok teroris di gunung hendak menculiknya. Keanehan dan keseraman berselimut menjadi satu di pertandingan pertama Adelmund di Indonesia. Setelah beberapa kali pertandingan, ia tiba-tiba di depak begitu saja, hingga ia berkata “Ini suatu petualangan,” ungkapnya. Tidak adanya sistem kontrak yang jelas, menciptakan Adelmund kembali ke Belanda.


Kembali Didepak Oleh Madura United Demi Mengisi Kantong Pribadi Yang Hakiki


Kristian Adelmund merupakan sosok yang pernah mencicipi keganasan Liga Indonesia Ketika Borok Sepak Bola Tanah Air Terungkap Oleh Pemain Belanda Yang Pernah Hijrah Ke Indonesia


Setelah didepak tanpa alasan oleh PSIM Jogja, ternyata tak menciptakan Adelmund berprasangka sama ketika dipinang Madura United. Padahal Madura United mencari seorang gelandang tengah, bukan bek tengah ibarat dirinya. Namun alasannya yakni sang distributor telah mempunyai komitmen dengan tim risikonya transfer berjalan sewajarnya. Bahkan kata Adelmund “Kalau pun saya berposisi penjaga gawang mereka tetap akan menampilkan saya sebagai gelandang serang,”.


Menjalani setengah demam isu dengan memperlihatkan bantuan 10 assist tampaknya merupakan demam isu yang baik kata Adelmund. Terlebih lagi publik Madura sangat mengasihi dirinya. Tapi tiba-tiba ia didepak demi mengisi kantong eksklusif oknum official Madura United. “Semuanya berjalan baik dan para fans sangat menghargai saya. Namun tiba-tiba saya didepak tanpa belas kasihan. Dengan cara ini instruktur sanggup mengambil pemain gres dan memasukkan sejumlah uang ke kantongnya sendiri,” ungkapnya kepada Vice Sport.


Bentuk Intimidasi Terhadap Tim Lawan Juga Terjadi Di Depan Mata


Kristian Adelmund merupakan sosok yang pernah mencicipi keganasan Liga Indonesia Ketika Borok Sepak Bola Tanah Air Terungkap Oleh Pemain Belanda Yang Pernah Hijrah Ke Indonesia


“Meski keadaan semakin membaik dikala ini, korupsi tetap menjadi problem utama sepak bola Indonesia. Sebagai contoh, saya adakala melihat bos lawan – saya melihat bahwa ia membawa pistol – melihat ruang ganti wasit. Anda tidak perlu heran dengan hal itu di Indonesia,” ungkap Adelmund.


Apa yang diungkapkan Adelmund rasanya ibarat sebuah stigma yang tak sanggup dihindarkan. Bahwa bentuk intimidasi dengan implikasi pertandingan tidak berjalan sportif ibarat telah menjadi pemandangan biasa. Ada pun bentuk intimidasi yang ia saksikan tak hanya itu. Semasa berseragam PSS Sleman kala menghadapi PSIM Jogja, sebuah laga derby Jawa Tengah, dikala berada di sisi lapangan (bangku cadangan) ia menonton pertandingan sambil menghindari kerikil secara bersamaan.


Ketika berhadapan dengan Persis Solo ia melihat bahwa ada sesaji yang dilakukan penyihir berbentuk ketel untuk mengganggu pertandingan. Belum lagi dikala ia melihat rekan satu timnya terkena kerikil dan gres saja tersingkir di lapangan, namun wasit tetap melanjutkan. Hal yang lebih memalukan kala digelar satu pertandingan dengan regulasi tanpa penonton, namun ada saja yang menghadiri hingga berimbas tewasnya satu penonton dan ada pula perempuan yang diperkosa berdasarkan penuturannya.


Di Luar Logika, Dikala Sperma Dihargai Lebih Dari 100 Juta


Kristian Adelmund merupakan sosok yang pernah mencicipi keganasan Liga Indonesia Ketika Borok Sepak Bola Tanah Air Terungkap Oleh Pemain Belanda Yang Pernah Hijrah Ke Indonesia


Mungkin ini merupakan sesuatu hal diluar bobroknya sepak bola yang diungkap oleh Adelmund. Tapi ini menjadi satu cerita yang unik ketika ada seorang perempuan yang menawar Adelmund untuk menyumbangkan spermanya. Untuk ukuran pemain bola berdarah Belanda yang tentu mempunyai daya pikat terlebih lagi di tempat Asia, usut punya usut, sperma dari Adelmund ditawar antara 800 juta hingga 1 milliar.


“Ketika saya latihan bersama PSS Sleman banyak perempuan menghampiri saya di lapangan dengan membawa makanan. Bahkan dari mereka ada yang mengajak pulang bersama,” ujarnya.


Meskipun Begitu Ia Tetap Cinta Indonesia


Kristian Adelmund merupakan sosok yang pernah mencicipi keganasan Liga Indonesia Ketika Borok Sepak Bola Tanah Air Terungkap Oleh Pemain Belanda Yang Pernah Hijrah Ke Indonesia


Bak bintang pop di Indonesia Adelmund dihargai lebih dari sekedar pemain bola. Bahkan, ia menyebutkan bahwa hidupnya di Indonesia hidup ibarat dewa. “Rasanya membuang-buang waktu menghabiskan hari-hari dengan bisnis. Saya sering berpikir, apa yang saya lakukan di sini?”


“Saya tidak sabar untuk kembali lagi, Mungkin saja saya akan pergi dalam waktu enam bulan. Tentu saja saya berharap kembali bermain sepak bola. Sejumlah klub sudah menginformasikan.” imbuhnya. Sekarang, Kristian Adelmund bermain untuk  SC Feyenoord, versi amatir dari Feyenoord Rotterdam. Apa yang diungkapkan Adelmund menjadi cerminan bahwa sepak bola Indonesia jauh dari kata baik dari segala struktur.


 


 


 


 


 


 


 


Pascal Nouma, Striker Nyentrik Perancis Populer Di Turki

Sebagai pemain asal Perancis, nama Pascal Nouma memang tak sefamiliar Eric Cantona dan Laurent Blanc, pemain yang seangkatan dengan dirinya. Bahkan, nama pemain kelahiran 1972 ini juga tidak pernah mengisi daftar pemain tim nasional Perancis. Paling, hanya menjadi pecahan tim U-21, itu pun hanya turun sebanyak dua kali semasa kualifikasi Piala Eropa.


Jelas saja, lewat gosip tersebut diketahui mengapa nama Pascal Nouma tidak cukup dikenal bagi banyak orang. Tapi tidak dengan orang Turki. Masyarakat di sana begitu mengenal nama Pascal Nouma, bahkan namanya lebih dikenal di tanah kelahiran Hasan Sas ini, dari pada Michele Platini. Hal kontroversial dan krusial kerap dilakukan Nouma. Banyak mengoleksi kartu kuning hingga merah menjadi torehan pemain berkepala pelontos ini.


Salah satunya ketika ia menendang paparazzi, yang menyebabkan dirinya masuk penjara. Namun, hakim yang menawarkan aturan merupakan fans Besiktas (tim yang dibelanya di trend 2000 dan 2003), menyatakan kalau ia sanggup mencetak gol, hukumannya akan dicabut. Tetapi apabila tak berhasil, ia akan mendekam sesuai hukumannya. Untungnya dikala partai hidup dan mati karirnya menjelang, ia mencetak gol di injury time menit 94.


Banyak Menghabiskan Waktu Di Liga Perancis, Tapi Lebih Terkenal Di Turki


 nama Pascal Nouma memang tak sefamiliar Eric Cantona dan Laurent Blanc Pascal Nouma, Striker Nyentrik Perancis Terkenal Di Turki

Sumber : BBC.com


Karir Pascal Nouma terbilang cukup panjang. Di mulai dari tahun 1989, pemain yang mengisi pos sebagai striker ini, menjadi pemain PSG dengan mengemas 19 penampilan tanpa gol. Hijrah ke Lille menjadi alasan sehabis dua musimnya di PSG tak berjalan menyenangkan. 1 trend di Lillem beliau hanya bisa mengemas 2 gol.


Tar terlalu istimewa, performa sebagai striker alasannya yaitu miskin gol,membuat pemain berdarah Senegal ini berkeliling tim Perancis lain, menyerupai R. Straousburg, Lens, SM Caen dan sempat kembali ke PSG pada tahun 1994. Berbeda dengan awal karirnya, lonjakan peran Nouma di trend kedua dibuktikan lewat 10 gol dari 55 penampilannya. Setidaknya lebih anggun dari awal karirnya.


Besiktas Membawa Nouma Menjadi Sosok Yang Dielu-elukan Di Turki


 nama Pascal Nouma memang tak sefamiliar Eric Cantona dan Laurent Blanc Pascal Nouma, Striker Nyentrik Perancis Terkenal Di Turki

Sumber : BBC.com


Setelah petualangannya di Liga Perancis berakhir, pada 2000 ia resmi berpindah dari Lens menuju Liga Turki, Besiktas, dengan nilai transfer 4 juta Euro. Menjadi pecahan Besiktas, menciptakan Nouma menjadi pemain populer di Turki. Terlebih di trend pertama ia sudah mencetak 18 gol dari 24 penampilannya. Nouma pun menjadi pemain favorit publik Kara Katallar (Elang Hitam).


Setelah selama satu trend menggunakan seragam Beskitas, ia pun berkesempatan memperkuat tim Perancis, Marseille, yang merupakan salah satu tim berpengaruh di jajaran klub Perancis selain PSG, AS Monaco dan Olympique Lyon. Sayang kepindahannya senilai 2,5 juta Euro tersebut tidak terlalu memuaskan, sehingga ia kembali pindah ke Besiktas di tahun 2002 dan berkontribusi menawarkan sebuah trofi Liga Super Turki.


Dicintai Para Fans Besiktas Karena Sikapnya Yang Gila


 nama Pascal Nouma memang tak sefamiliar Eric Cantona dan Laurent Blanc Pascal Nouma, Striker Nyentrik Perancis Terkenal Di Turki

Sumber : BBC.com


Fans Besiktas memang populer gila. Bagi Bung yang belum tahu, fans Elang Hitam ini pernah memecahkan rekor dunia sebagai fans “Terberisik” dengan 132 desibel di tahun 2007 dikala mengalahkan Liverpool di fase grup Liga Champions dengan skor 2-1. Bahkan, Sir Alex Ferguson juga menyampaikan kalau fans Besiktas menjadi fans paling “berisik” yang pernah didengarnya. Kegilaan tersebut sanggup dilihat dari keberisikan suporter yang fanatik, tak pelak kegilaan yang dimiliki fans Besiktas pun terdapat pada diri Nouma.


Pemain ini kerap berlaku bernafsu sehingga sering mengoleksi kartu. Seperti ketika dirinya memukul Danny Mills di Elland Road, dikala Besiktas berhadapan dengan Leeds United. Agresivitas sebagai striker ternyata diiringi perilaku tempramentalnya. Momen dikala Nouma memukul Mills, menginspirasi fans Besiktas menciptakan foto dirinya dibarengi Che Guevara dan Fidel Castro. Karena itu ia menjadi lambang anti-fasis bagi fans Besiktas menyerupai dilansir The Guardian.


Selebrasi Nyentrik Yang Sedikit Sakit, Membuat Nouma Dipecat


 nama Pascal Nouma memang tak sefamiliar Eric Cantona dan Laurent Blanc Pascal Nouma, Striker Nyentrik Perancis Terkenal Di Turki

Sumber : TheGuardian.com


Rentetan kasus krusial dan juga kontroversial sudah diciptakan dirinya. Tidak hanya melaksanakan tackle keras ke arah lawan, memukul Danny Mills, dan menendang paparazzi. Di tahun 2003, Nouma harus dipecat dari tim yang begitu dicintainya. Lantaran melaksanakan selebrasi kontroversial dengan memagang penis, sehabis mencetak gol ke gawang Fenerbache. Presiden Besiktas dikala itu, Serdar Bilgili, mengatakan, “Aksi Nouma dikala melawan Fenerbache sangat berlawanan dengan nilai moral tradisi Turki, jadi saya harus memecatnya,”.


Insiden selebrasi itu terekam di stasiun TV Turki, alasannya yaitu tubruk Besiktas melawan Fenerbache merupakan tubruk besar. Bahkan BBC menyampaikan Nouma juga pernah memukul jurnalis di klub malam, dan kencing sembarang di daerah latihan Besiktas, yang menciptakan ia sanggup terjerat hukum. Namun, agresi selebrasi dipandang lain oleh Nouma, ia menyatakan bahwa agresi tersebut tidak (berniat) menyinggung siapa pun, hanya kesenangan langsung dirinya.


Karir Di Lapangan Hijau Telah Usai, Namun Sorot Kamera Tetap Mengarah Padanya


 nama Pascal Nouma memang tak sefamiliar Eric Cantona dan Laurent Blanc Pascal Nouma, Striker Nyentrik Perancis Terkenal Di Turki

Sumber : TheGuardian.com


Setelah tetapkan gantung sepatu di tahun 2005, Nouma tetap diagungkan di Turki. Pribadi dan kegilaan di lapangan, ternyata tak menciptakan publik memandang Nouma menjijikan. Ketika pensiun, bukan jalur instruktur yang ditargetkannya, karena beliau menerima anjuran untuk menjadi aktor. Terbukti 4 film sudah dilakoni dari tahun 2006 hingga 2015, salah satunya Dünyayi Kurtaran Adam’in Oglu. Dan juga turut serta program Dancing With The Stars versi Turki. Karir sepak bolanya memang sudah usai, tetapi kisahnya di Turki masih hidup dengan menjadi selebritis. Selain itu, ia pun menikahi dengan orang Turki dan telah resmi menjadi warga dari negeri yang juga populer akan kebabnya itu.


 


Generasi Emas Sepak Bola Vietnam Berbicara Banyak Di Kancah Asia

Vietnam gres saja mengecap manisnya sebuah perjuangan, skuad mudanya berhasil menembus partai final Piala Asia U23. Hal ini tentunya menjadi sejarah bagi Vietnam dan Asia Tenggara, karena berhasil hingga pada partai puncak pagelaran kompetisi Benua Asia tersebut. Meski pada alhasil perjuangannya berhasil dikandaskan oleh Uzbekistan dengan skor 2-1.


Walau gagal juara, gelar runner-up sudah disyukuri warga Vietnam, kepulangan timnas muda tersebut disambut meriah. Tak mau ketinggalan momentum, Vietjet salah satu maskapai penerbangan Vietnam turut menyambut bahkan menjadi pesawat kepulangan mereka dari China, tempat digelarnya Piala Asia U-23 2018. Cara menyambutnya pun berbeda, dengan menempatkan model berbikini yang berlenggak-lenggok di sepanjang gang pesawat. Tentu saja, cara maskapai tersebut mengundang emosi publik yang mengecapnya sebagai promo murahan.


Terlepas dari hal itu, usaha Vietnam yang sanggup berjibaku dengan tim Asia lainnya hingga berhasil berada di partai puncak, bukanlah merupakan hoki. Semua dibangun lewat perjuangan. Kegagalan mereka di SEA Games 2017, menjadi catatan koreksi untuk federasi. Mulai dari pergantian instruktur hingga fokus kepada pembinaan pemain muda, karena poin tersebut menjadi hal dasar namun krusial. Kaprikornus tidak salah, kalau Vietnam sanggup merengkuh gelar runner-up di ajang Piala Asia U23.


Berhasil Menciptakan Sejarah Bagi Sepak Bola Asia Tenggara


Vietnam gres saja mengecap manisnya sebuah usaha Generasi Emas Sepak Bola Vietnam Berbicara Banyak Di Kancah Asia

Sumber : Eyesoccer.id


Vietnam mencatatkan rekor beruntun saat berlaga dalam Piala Asia U-23 kemarin. Dengan menjadi satu-satunya tim yang sanggup menembus babak semi final dan partai final. Torehan tersebut tentu menaikkan status kesebelasan Asia Tenggara di mata Asia. Hingga tak lagi dipandang sebelah mata oleh Asia Timur dan Timur Tengah.


Sekaligus menjadi menunjukan kalau peta kekuatan sepak bola Asia Tenggara semakin berkembang. Apabila dulu Thailand selalu menjadi momok serta representasi tempat ASEAN, kini muncul lagi nama gres ialah Vietnam. Mungkin akan disusul oleh Malaysia dan Vietnam.


Status Kuda Hitam Disematkan Kepada Vietnam. Keberhasilan Melangkah Ke Final Bukan Modal Keberuntungan, Tapi Latihan!


Vietnam gres saja mengecap manisnya sebuah usaha Generasi Emas Sepak Bola Vietnam Berbicara Banyak Di Kancah Asia

Sumber : Eyesoccer.id


Tidak ada yang menyangka kalau Vietnam sanggup berbicara banyak di pagelaran Piala Asia U-23. Kalau Bung pikir-pikir saja, hal ini menyerupai menjagokan Scotlandia di Piala Dunia. Kenapa begitu? Status kuda hitam disematkan kepada kesebelasan yang diprediksi sanggup menjadi hama alias pengganggu tim-tim kandidat juara. Namun, untuk memperlihatkan status ke Vietnam sebelum pagelaran dimulai rasanya agak utopis kan Bung?


Tapi inilah sepak bola, apa pun sanggup terjadi dalam 90 menit. Vietnam tampil lebih taktis. Tergabung dengan Suriah, Australia dan Korea Selatan di Grup I tidak menciptakan mereka gentar. Lantaran tantangan tersebut dijawab dengan point 4 dari 1 kali kalah, 1 kali seri dan 1 kali menang. Lolos ke fase knock-out, Iraq dan Qatar menjadi korban keganasan pasukan Vietkong. Walau di partai puncak harus kalah dari Uzbekistan, meski permainan sengit telah ditunjukkan.


Beda Pelatih, Beda Permainan, Namun Satu Perjuangan


Vietnam gres saja mengecap manisnya sebuah usaha Generasi Emas Sepak Bola Vietnam Berbicara Banyak Di Kancah Asia

Sumber : Eyesoccer.id


Sepak bola tanpa seni administrasi mustahil menang, kombinasi otak dan fisik menyebabkan olahraga berebut satu bola ini menjadi seru untuk ditonton dan dibicarakan. Kegagalan dari pagelaran SEA Games 2017, menjadi catatan koreksi bagi federasi sepak bola Vietnam. Hal itu diawali melalui berpindahnya dingklik kepelatihan, dari Nguyen Huu Thang ke Park Hang-seo.


Permainan Vietnam dibawah kendali Huu Thang memang menarik dengan berfilosofi pada sepak bola ofensif atau menyerang. Namun, permainan menarik yang ditunjukkan tidak berbuah kemenangan. Lewat Hang-seo, Vietnam menjadi lebih pragmatis, dengan fokus pada pertahanan. Mengusung deretan 5-3-2 membuahkan hasil runner-up, sekaligus permainan anggun dan impresif yang kerap ditunjukan setiap pertandingan.


Pembinaan Pemain Muda Selalu Menjadi Faktor Utama Untuk Sepak Bola Mendunia


Vietnam gres saja mengecap manisnya sebuah usaha Generasi Emas Sepak Bola Vietnam Berbicara Banyak Di Kancah Asia

Sumber : Eyesoccer.id


Keseriusan Federasi Sepak Bola Vietnam atau VFF, dimulai dengan membangkitkan pemain muda yang terkubur bakatnya. Regenerasi pemain dan pembinaan pemain muda dilakukan disetiap usia. Dapat dilihat dari banyak sekali ajang yang melibatkan usia muda, Vietnam selalu tampil memukau. Menembus partai final Piala AFF U-19 2013, berhasil hingga partai semi-final Piala Asia U-19 2016, masuk putaran final Piala Dunia U-20 2017, dan yang terbaru menjadi runner up Piala Asia U-23 2018. Harapannya, para generasi “emas” tersebut juga sanggup berbicara banyak di level senior.


Tidak hanya dari federasi yang fokus kepada pembinaan pemain muda atau kerap disebut grassroot. Setidaknya ada dua kesebelasan di Vietnam yang mempunyai perguruan tinggi sepak bola terbaik menyerupai Hanoi FC dan Hoang Anh Gia Lai. Bahkan, tim Hoang Anh Gia Lai mempunyai afiliasi dengan tim sepak bola asal Inggris, Arsenal. Kaprikornus sudah terperinci kenapa regenerasi pemain Vietnam bagus kan Bung?


Bagaimana Dengan Indonesia?


Vietnam gres saja mengecap manisnya sebuah usaha Generasi Emas Sepak Bola Vietnam Berbicara Banyak Di Kancah Asia

Sumber : Goal.com


Indonesia sanggup dibilang masih terlampau jauh Bung dari Vietnam, baik itu dari sisi prestasi, maupun hasil yang sanggup direngkuh pemain muda. Tentu kita pun bakal memahami dan mengamini kalau Vietnam lebih unggul (jauh) dari Indonesia. Bukan berarti Indonesia tidak ada harapan, impian akan selalu ada selama manusia sepak bola masih mempunyai mimpi yang sama.


Kendati demikian, tanpa perlu menggali lebih dalam problema sepak bola Indonesia, pembinaan pemain muda dan membangun liga yang berkualitas sanggup menjadi solusinya. Adapun sasaran Indonesia untuk tampil di Olimpide tahun 2024 harus direalisasikan, jangan hanya cuap-cuap basi!